Tani Maju

Blog

view:  full / summary

Cara Beternak Kambing

Posted by gapoktan.tanimaju@gmail.com on September 16, 2012 at 12:30 AM Comments comments (0)

 

BUDIDAYATERNAK KAMBING

 

 

 

KELUARAN

Ternak kambing produksi optimal

 

BAHAN

Kambing, pakan, peralatan konstruksi kandang, lahan

 

ALAT

Tempat pakan/minum

 

PEDOMAN TEKNIS

 

Jenis kambing asli di Indonesia adalah kambing kacang dan kambing peranakanetawa (PE)

 

Memilih bibit

Pemilihan bibit diperlukan untuk menghasilkan keturunan yang lebih baik.Pemilihan calon bibit dianjurkan di daerah setempat, bebas dari penyakit denganphenotype baik.

 

Calon induk

Umur berkisar antara > 12 bulan, (2 buah gigi seri tetap), tingkat kesuburanreproduksi sedang, sifat keindukan baik, tubuh tidak cacat, berasal dariketurunan kembar (kembar dua), jumlah puting dua buah dan berat badan > 20kg.

 

Calon pejantan

Pejantan mempunyai penampilan bagus dan besar, umur > 1,5 tahun, (gigi seritetap), keturunan kembar, mempunyai nafsu kawin besar, sehat dan tidak cacat.

 

Pakan

 

Ternak kambing menyukai macam-macam daun-daunan sebagai pakan dasar dan pakantambahan (konsentrat).

 

Pakan tambahan dapat disusun dari (bungkil kalapa, bungkil kedelai), dedak,tepung ikan ditambah mineral dan vitamin.

 

Pakan dasar umumnya adalah rumput kayangan, daun lamtoro, gamal, daun nangka,dsb.

 

Pemberian hijauan sebaiknya mencapai 3 % berat badan (dasar bahan kering) atau10 - 15 % berat badan (dasar bahan segar)

 

Pemberian pakan induk

Selain campuran hijauan, pakan tambahan perlu diberikan saat bunting tua danbaru melahirkan, sekitar 1 1/2 % berat badan dengan kandungan protein 16 %.

 

Kandang

Pada prinsipnya bentuk, bahan dan konstruksi kandang kambing berukuran 1 1/2 m²untuk induk secara individu. Pejantan dipisahkan dengan ukuran kandang 2 m²,sedang anak lepas sapih disatukan (umur 3 bulan) dengan ukuran 1 m/ekor. tinggipenyekat 1 1/2 - 2 X tinggi ternak.

 

Pencegahan penyakit : sebelum ternak dikandangkan, kambing harus dibebaskandari parasit internal dengan pemberian obat cacing, dan parasit eksternal dengandimandikan.

 

 

--------------------------------------------------------------------------------

 

TERNAK KAMBING

 

PENDAHULUAN

Ternak kambing sudah lama diusahakan oleh petani atau masyarakat sebagai usahasampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi (baikdaging, susu, kotoran maupun kulitnya) relatif mudah. Meskipun secaratradisional telah memberikan hasil yang lumayan, jika pemeliharaannyaditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannyadapat mencapai 50 - 150 gram per hari. Adatiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam usaha ternak kambing, yaitu:bibit, makanan, dan tata laksana.

 

BIBIT

Pemilihan bibit harus disesuaikan dengan tujuan dari usaha, apakah untukpedaging, atau perah (misalnya: kambing kacang untuk produksi daging, kambingetawah untuk produksi susu, dll). Secara umum ciri bibit yang baik adalah yangberbadan sehat, tidak cacat, bulu bersih dan mengkilat, daya adaptasi tinggiterhadap lingkungan.

 

Ciri untuk calon induk:

 

Tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis punggung dan pinggang lurus, tubuhbesar, tapi tidak terlalu gemuk.

 

Jinak dan sorot matanya ramah.

 

Kaki lurus dan tumit tinggi.

 

Gigi lengkap, mampu merumput dengan baik (efisien), rahang atas dan bawah rata.

 

Dari keturunan kembar atau dilahirkan tunggal tapi dari induk yang muda.

 

Ambing simetris, tidak menggantung dan berputing 2 buah.

 

Ciri untuk calon pejantan :

 

Tubuh besar dan panjang dengan bagian belakang lebih besar dan lebih tinggi,dada lebar, tidak terlalu gemuk, gagah, aktif dan memiliki libido (nafsu kawin)tinggi.

 

Kaki lurus dan kuat.

 

Dari keturunan kembar.

 

Umur antara 1,5 sampai 3 tahun.

 

MAKANAN

Jenis dan cara pemberiannya disesuaikan dengan umur dan kondisi ternak. Pakanyang diberikan harus cukup protein, karbohidrat, vitamin dan mineral, mudahdicerna, tidak beracun dan disukai ternak, murah dan mudah diperoleh. Padadasarnya ada dua macam makanan, yaitu hijauan (berbagai jenis rumput) dan makantambahan (berasal dari kacang-kacangan, tepung ikan, bungkil kelapa,

 

PUPUK ORGANIK

Posted by tanimaju on February 1, 2009 at 2:25 AM Comments comments (0)


PUPUK ORGANIK



 

Bahan dasar pupuk organik, baik dalam bentuk kompos maupun pupuk kandang dapat berasal dari limbah pertanian, seperti jerami, dan sekam padi, kulit kacang tanah, ampas tebu, batang jagung, dan bahan hijauan lainnya. Sedangkan kotoran ternak yang banyak dimanfaatkan adalah kotoran sapi, kerbau, kambing, ayam, itik dan babi. Disamping itu, dengan berkembangnya pemukiman, perkotaan dan industri makan bahan dasar kompos makin beranekaragam seperti dari tinja, limbah cair, sampah kota dan pemukiman.

 

Salah satu bentuk pupuk organik yang sekarang sedang banyak digunakan adalah pupuk bokashi. Bokashi adalah suatu kata dalam bahasa Jepang yang berarti ?bahan organik yang telah difermentasikan?.


Pupuk bokashi dibuat dengan memfermentasikan bahan-bahan organik (dedak, ampas kelapa, tepung ikan, dsb) dengan MOL (Mikro Organisme Lokal). Biasanya bokashi ditemukan dalam bentuk serbuk atau butiran. Bokashi sudah digunakan para petani Jepang dalam perbaikan tanah secara tradisional untuk meningkatkan keragaman mikroba dalam tanah dan meningkatkan persediaan unsur hara bagi tanaman. Secara tradisional bokashi dibuat dengan cara menfermentasikan bahan organic seperti dedak dengan tanah dari hutan atau gunung yang mengandung berbagai jenis mikroorganisme.

 


Akan tetapi , saat ini telah dikenal Bokashi MOL yaitu bokashi dengan bahan organik yang difermentasikan dengan mikroorganisme efektif, bukan dengan tanah dari hutan atau gunung. MOL yang digunakan dalam pembuatan bokashi adalah suatu kultur campuran berbagai mikriorganisme yang bermanfaat (terutama bakteri fotosintetik dan bakteri asam laktat, ragi, actinomycetes, dan jamur peragian) dan dapat digunakan sebagai inokulan untuk meningkatkan keragaman mikroba tanah. Penggunaan MOL dalam pembuatan bokashi selain dapat memperbaiki kesehatan dan kualitas tanah juga bermanfaat memperbaiki pertumbuhan serta jumlah dan mutu hasil tanaman.

 


Pemikiran tentang penggunaan mikroorganisme efektif ini dikembangkan oleh Prof. Teruo Higa dari Jepang. Teruo telah menemukan mikroorganisme yang dapat hidup secara bersama dalam kultur campuran dan secara fisioligis dapat bergabung satu dengan yang lain. Menurutnya, bila kultur ini dimasukan dalam lingkungan alami, maka pengaruh baik masing-masing akan lebih berlipat ganda secara sinergis. Menurutnya juga, kultur MOL tidak mengandung mikroorganisme yang telah dimodifikasi secara genetik, tetapi kultur ini merupakan campuran berbagai spesies mikroba yang terdapat dalam lingkungan alami di dunia.

 


Pengaruh Bokashi dalam Pertumbuhan dan Produksi Tanaman

 



Pada prinsipnya, peranan pupuk bokashi hampir sama dengan pupuk organik lainnya seprti kompos, namun pada bokashi MOL pengaruhnya dipercepat dengan adanya penambahan mikroorganisme efektif. Bokashi dapat digunakan 3-14 hari setelah perlakuan (fermentasi). Bokashi dapat digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan dan produksi tanaman meskipun bahan organiknya belum terurai seperti pada kompos. Bila bokashi dimasukan kedalam tanah, bahan organiknya dapat digunakan sebagai pakan oleh mikroorganisme efektif untuk berkembangbiak dalam tanah, sekaligus sebagai tambahan persediaan unsur hara bagi tanaman.

 


MOL yang digunakan dalam pembuatan bokashi sangat berguna sekali dalam perbaikan sifat fisik, kimia dan biologi tanah, juga dapat menekan pertumbuhan hama dan penyakit yang merugikan tanaman. Dengan demikian penggunaan bokasi MOL baik secara langsung maupun tidak, sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan tanaman pertanian termasuk padi , palawija dan sayuran.

 


Penggunaan bokasi MOL secara rinci berpengaruh terhadap:

 

- Peningkatan ketersediaan nutrisi tanaman

 

- Aktivitas hama dan penyakit/patogen dapat ditekan

 

- Peningkatan aktivitas mikroorganisme indogenus yang menguntungkan, seperti Mycorhiza, Rhizobium, bakteri pelarut fosfat, dll.

 

- Fiksasi Nitrogen

 

- Mengurangi kebutuhan pupuk dan pestisida kimia.

 


Dengan demikian, dapat terlihat bahwa penggunaan pupuk bokashi memiliki prinsip ekologi sebagai berikut:

 

- Memperbaiki kondisi tanah sehingga menguntungkan pertumbuhan tanaman terutama pengelolaan bahan organik dan meningkatkan kehidupan biologi tanah

 

- Optimalisasi ketersediaan dan keseimbangan daur hara, melalui fiksasi nitrogen, penyerapan hara, penambahan dan daur pupuk dari luar usaha tani.

 

- Membatasi kehilangan hasil panen akibat aliran panas, udara dan air dengan cara mengelola iklim mikro, pengelolaan air dan pencegahan erosi

 

Membatasi kehilangan hasil panen akibat hama dan penyakit dengan melaksanakan usaha preventif melalui perlakuan yang aman

 


Bertolak dari kegunaan dan prinsip ekologi dari penggunaan pupuk bokashi MOL tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa dengan tersedianya nutrisi tanaman yang cukup dan aktivitas hama dan penyakit yang dapat ditekan, pertumbuhan dan produksi tanaman pertanian dapat meningkat baik kualitas maupun kuantitasnya. Selain itu penggunaan pupuk ini juga ramah lingkungan, produk yang dihasilkan tidak tercemar oleh bahan-bahan kimia yang membahayakan kesehatan dan lingkungan.

 


Akhirnya, dapat kita simpulkan bahwa dalam rangka peningkatan produksi tanaman pertanian, penggunaan pupuk bokashi MOL merupakan salah satu alternatif yang bijak, efektif dan efisien.**


PUPUK ORGANIK


TEKNIK PEMBUATAN BOKASHI


Bokashi adalah hasil fermentasi bahan organik (jerami, sampah organik, pupuk kandang dan lain-lain) dengan teknologi MOL (Mikroorgamisme Lokal) yang dapat digunakan sebagai pupuk organik untuk menyuburkan tanah dan meningkatkan pertumbuhan tanah dan produksi tanaman. Bokashi dapat dibuat dalam beberapa hari dan bisa langsung digunakan sebagai pupuk

Cara Pembuatan Bokashi Pupuk Kandang

Bahan-bahan :

· Pupuk kandang : 300 Kg

· Dedak : 50 Kg

· Sekam : 150 Kg

· Larutan gula/molase : 200 ml/20 sdm

· EM4 : 500 ml/50 sdm

· Air secukupnya.

Cara Pembuatan :

· Larutkan MOL dan Gula kedalam air

· Pupuk kandang, sekam, dan dedak dicampur secara merata

· Siramkan MOL secara perlahan-lahan kedalam adonan secara merata sampai kandungan air adonan mencapai 30% Bila adonan dikepal dengan tangan, air tidak menetes dan bila kepalan tangan dilepas maka adonan mudah pecah (megar).

· Adonan digundukan diatas ubin yang kering, dengan ketinggian minimal 15 - 20 cm, kemudian ditutup dengan karung goni selama 4 - 7 hari

· Pertahankan suhu gundukan adonan maksimum 500C. Bila suhunya lebih dari 500C, turunkan suhunya dengan cara dibolak-balik, kemudian tutup kembali dengan karung goni. Suhu yang tinggi dapat mengakibatkan bokashi menjadi rusak karena terjadi proses pembusukkan. Pengecekan suhu sebaiknya dilakukan setiap 5 jam sekali.

· Setelah 4 - 7 hari bokashi telah selesai terfermentasi dan siap digunakan sebagai pupuk organik.




Rss_feed

MIKRO ORGANISME LOKAL

Posted by tanimaju on February 1, 2009 at 2:24 AM Comments comments (1)


PERBANYAKAN MIKRO ORGANISME LOKAL (MOL)

 

Bahan-bahan utama MOL :

1. Karbohidrat

- Air Beras

- Nasi Bekas

- Kentang

- Rebung

- Bonggol Pisang

- dll.

 

2. Glukosa

- Gula Aren

- Gula Pasir

- Air Kelapa

- Air Tebu

- dll

 

3. Sumber bakteri

- Keong

- Kulit Buah-buahan

- Akar kacang-kacangan

- Urine

- Darah hewan

- dll

 

Cara membuatnya :

1. Campurkan ketiga bahan tersebut setelah beberapa bahan di potong-potong atau hancur.

2. Lalu campurkan dan aduk sampai rata

3. Setelah menyatu, kemudian di fermentasi dengan cara menutup tempat/ember yang berisi bahan-bahan tersebut dengan kertas Koran selama 7 – 14 hari, sampai mengeluarkan bau tapai (peyeum)

4. Setelah jadi MOL dan jika kita ingin memperbanyak hanya tinggal di bagi 2 bagian di tempat yang berbeda kemudian tambahkan lagi gula aren ke dua botol/tempat yang telah di isi MOL.

5. Perlakuan selanjutnya sama dengan cara-cara sebelumnya.

 

Aplikasi MOL

1. Fase Awal (memerlukan unsure Nitrogen tinggi)

2. Fase Bunting (antara umur 50 – 65 hst)

3. Fase Akhir (memerlukan  unsure Nitrogen tinggi, umur > 65 hst)

 

Dosis 5 – 10 cc/ltr air, disemprotkan/dikocorkan ke tanah (3 hari sebelum tanam), atau dapat digunakan untuk pembuatan 1 Ton Bokhasi  dengan cara mencampurkan  1 liter MOL dengan 200 liter air, lalu di berikan pakai gembor ke bokashi yang akan kita buat hingga jika dikepal tidak pecah/buyar.

 

Aplikasi pada umur tanaman Padi yaitu sekitar 7 – 8 kali (per minggu) kecuali ketika umur padi antara 36 – 48 hst.


PESTISIDA NABATI

Posted by tanimaju on February 1, 2009 at 2:20 AM Comments comments (0)


PESTISIDA NABATI SKALA RUMAH TANGGA

Mengenal Pestisida Nabati Skala Rumah Tangga untuk Mengendalikan Hama Tanaman

Berkembangnya penggunaan pestisida sintesis (menggunakan bahan kimia sintetis) yang dinilai praktis oleh para pencinta tanaman untuk mengobati tanamannya yang terserang hama, ternyata membawa dampak negatif bagi lingkungan sekitar bahkan bagi penggunanya sendiri. Catatan WHO (Organisasi Kesehatan Dunia mencatat bahwa di seluruh dunia setiap tahunnya terjadi keracunan pestisida antara 44.000 - 2.000.000 orang dan dari angka tersebut yang terbanyak terjadi di negara berkembang. Dampak negatif dari penggunaan pestisida diantaranya adalah meningkatnya daya tahan hama terhadap pestisida, membengkaknya biaya perawatan akibat tingginya harga pestisida dan penggunaan yang salah dapat mengakibatkan racun bagi lingkungan, manusia serta ternak.

Cukup tingginya bahaya dalam penggunaan pestisida sintetis, mendorong usaha untuk menekuni pemberdayaan pestisida alami yang mudah terurai dan tidak mahal. Penyemprotan terhadap hama yang dapat mengakibatkan rasa gatal, pahit rasanya atau bahkan bau yang kurang sedap ternyata dapat mengusir hama untuk tidak bersarang di tanaman yang disemprotkan oleh pestisida alami. Oleh karena itu jangan heran bila penggunaan pestisida alami umumnya tidak mematikan hama yang ada, hanya bersifat mengusir hama dan membuat tanaman yang kita rawat tidak nyaman ditempati.

Bahan yang digunakan pun tidak sulit untuk kita jumpai bahkan tersedia bibit secara gratis. Contohnya seperti tanaman bunga kenikir yang masih dapat di temui ditanah-tanah kosong pada daerah yang cukup tinggi.. Jenis lain yang digunakan pun harus sesuai dengan karakter dari bahan yang akan digunakan serta karakter dari hama yang ada. Seperti peribahasa, tak kenal maka tak sayang, sehingga menjadi: tak kenal bahan dan jenis hama maka tak dapat mengusir dan mengendalikan hama. Bahan lainnya adalah kunyit, sereh, bawang putih, daun jatropa, daun diffen, jenis rempah-rempah dan lainnya.

Dosis yang digunakan pun tidak terlalu mengikat dan beresiko dibandingkan dengan penggunaan pestisida sintesis. Untuk mengukur tingkat keefektifan dosis yang digunakan, dapat dilakukan eksperimen dan sesuai dengan pengalaman pengguna. Jika satu saat dosis yang digunakan tidak mempunyai pengaruh, dapat ditingkatkan hingga terlihat hasilnya. Karena penggunaan pestisida alami relatif aman dalam dosis tinggi sekali pun, maka sebanyak apapun yang diberikan tanaman sangat jarang ditemukan tanaman mati. Yang ada hanya kesalahan teknis, seperti tanaman yang menyukai media kering, karena terlalu sering disiram dan lembab, malah akan memacu munculnya jamur. Kuncinya adalah aplikasi dengan dosis yang diamati dengan perlakuan sesuai dengan karakteristik dan kondisi ideal tumbuh untuk tanamannya.

Selain harus mengenal karakter dari bahan yang akan digunakan, karakter hamanya sendiri pun harus diperhatikan dengan baik. Dengan mencari informasi karakter hidup hama, mendengarkan dari pengalaman orang lain serta mengamati sendiri, kita dapat mencari kelemahan dari hama tersebut. Contohnya untuk kutu yang menempel kuat di batang atau daun dapat diatasi dengan menggunakan campuran sedikit minyak agar kutu tidak dapat menempel. Selain itu, untuk semut yang menyukai cairan manis pada tanaman, dapat disemprotkan air sari dari daun yang sifatnya pahit seperti daun pepaya, daun diffen, dan lainnya.

Berikut beberapa contoh hama dan pestisida alaminya:

1. Kutu Putih pada daun atau batang. Dapat digunakan siung bawang putih yang ditumbuk dan diperas airnya serta dicampurkan dengan air sesuai dosis yang diperlukan. Jika kutu melekat erat pada tanaman, dapat digunakan campuran sedikit minyak kelapa. Semprotkan campuran tersebut pada tanaman yang terserang hama.

2. Tikus. Buah jengkol dapat ditebarkan di sekitar tanaman atau di depan lubang sarang tikus. Atau dengan merendam irisan jengkol pada air selama 2 hari. Lalu semprotkan pada tanaman padi yang belum berisi akan menekan serangan walang sangit.

3. Berbagai serangga. Air rebusan cabai rawit yang telah dingin dan dicampur dengan air lagi serta disemprotkan ke tanaman akan mengusir berbagai jenis serangga perusak tanaman.

4. Aphids. Air rebusan dari campuran tembakau dan teh dapat mengendalikan aphid pada tanaman sayuran dan kacang-kacangan. Air hasil rebusan di campurkan kembali dengan air sehingga lebih encer.

5. Berbagai serangga. Air rebusan daun kemangi atau daun pepaya yang kering ataupun yang masih segar, dapat disemprotkan ke tanaman untuk mengendalikan berbagai jenis serangga.

6. Nematoda akar. Dengan menggunakan bunga kenikir (Bunga Tahi Kotok) yang direndamkan oleh air panas mendidih. Biarkan semalam lalu saring. Hasil saringan tersebut disiramkan ke media tanaman. Penting diperhatikan media yang digunakan mudah dilalui oleh air.

7. Mengendalikan serangga, nematoda dan jamur. Dengan membuat air hasil rendaman tumbukan biji nimba dengan air selama tiga hari. Lalu siram pada tanaman, umumnya efektif pada tanaman sayuran.

Banyak resep yang dapat ditemukan dari pengalaman. Selain itu, perhatikan teknis saat memberikan pestisida alami. Perhatikan curah hujan dan saat penyemprotannya. Usahakan menyemprot setelah hujan agar tidak luntur oleh air hujan. Selamat mencoba.

Chevi Budi


Note: Data jenis pestisida alami dari berbagai sumber.

PESTISIDA NABATI

"Hit and Run", Gaya Pestisida Nabati

.fullpost{display:inline;}


Satu lagi komponen penting dari konsep pertanian organik ramah lingkungan, yakni pembasmian hama dan penyakit tanaman dengan pestisida nabati.

PEMBASMIAN hama dengan cara pestisida nabati bukanlah konsep baru yang dipicu oleh maraknya pertanian organik akhir-akhir ini. Namun upaya ini telah ada sejak dulu, pestisida nabati lahir dari kearifan nenek moyang kita dalam menyikapi mewabahnya hama dan penyakit tanaman.

Sayangnya, ketika produk kimia beredar luas di pasaran, cara bijak itu pun dikesampingkan. Memang pestisida sintetis ini memiliki keunggulan dalam hal kecepatan dan efektivitasnya, namun efeknya yang bisa meracuni lingkungan mengembalikan kesadaran kita untuk memanfaatkan unsur-unsur dari alam dalam membasmi organisme pengganggu tanaman (OPT) tersebut.

Sejauh ini pemakaian pestisida nabati aman bagi manusia, hewan, dan lingkungan. Inilah keunggulan pestisida nabati yang sifatnya hit and run (pukul dan lari), yaitu bila diaplikasikan akan membunuh hama pada saat itu juga dan setelah itu residunya akan cepat menghilang/terurai di alam. Karena sifatnya yang mudah terdegradasi ini pestisida nabati harus sering disemprotkan pada tanaman.

Alam memang telah menyediakan bahan-bahan pestisida tersebut. Berbagai penelitian membuktikan beberapa tanaman mampu membasmi atau mengusir hama dan penyakit tanaman, bahan-bahan alamiah tersebut hadir dalam jaringan tumbuhan seperti daun, bunga, buah, kulit dan kayunya.

Tercatat ada 2.400 jenis tumbuhan yang termasuk ke dalam 234 famili dilaporkan mengandung bahan pestisida (Ir. Agus Kardinan, MS, Pestisida Nabati, Ramuan & Aplikasi, 1999). Tumbuh-tumbuhan ini dikelompokkan ke dalam: tumbuhan insektisida nabati, tumbuhan atraktan, tumbuhan rodentia nabati, tumbuhan moluskisida nabati dan tumbuhan pestisida serba guna.

Tumbuhan insektisida nabati adalah pengendali hama serangga. Contoh tumbuhan ini di antaranya piretrum (krisan), babadotan, bengkuang, bitung, jeringau, saga, serai, sirsak dan srikaya. Kemudian tumbuhan antraktan (pemikat) yang mampu menghasilkan bahan kimia menyerupai feromon. Di antara jenis tumbuhan ini adalah daun wangi (Melaleuca bracteata L.) serta selasih.

Sementara tumbuhan yang bisa digunakan sebagai pengendali roden (tikus, babi dll) adalah gadung KB dan gadung racun. Untuk jenis tumbuhan moluskisida nabati atau pembasmi moluska bisa dipakai tefrosia, tuba, dan sembung. Sementara pestisida serba guna (insektisida, fungisida, bakterisida, moluskisida, nematisida, dll) bisa diwakili oleh jambu mete, lada, nimba, mindi, tembakau, dan cengkih.

Untuk menghasilkan bahan pestisida nabati siap pakai dapat dilakukan secara sederhana. Pertama, dengan teknik penggerusan, penumbukan, pembakaran, atau pengepresan untuk menghasilkan produk berupa tepung, abu, atau pasta. Kedua, dengan teknik rendaman untuk menghasilkan produk ekstrak. Ketiga, dengan cara ekstraksi menggunakan bahan kimia.

Pestisida nabati dapat dibuat secara sederhana dan mudah dengan biaya murah sehingga dapat menekan biaya produksi pertanian. Dari pengalaman beberapa petani, pemakaian pestisida nabati bisa menekan ongkos produksi sampai 40%.

Mengapa beberapa tumbuhan bisa bersifat pestisida? Ini terletak pada zat aktif yang dikandung tanaman tersebut. Sebagai gambaran adalah tanaman nimba (Azadirachta indica). Tanaman ini mengandung bahan aktif azadirachtin, meliantriol, salannin, dan nimbi. Kombinasi bahan aktif ini disinyalir mampu mengurangi serangan ulat tanah Agrotis epsilon, belalang, aphids, dan ulat grayak Spodopthera exigua. Nimba mempengaruhi reproduksi, penolak, penarik, antimakan, dan menghambat perkembangan hama serangga. Total ada sekitar 40 jenis serangga yang bisa ditanggulangi nimba ini.

Di balik kecantikan bunga krisan (Chrysantemum cinerariaefolium) ada potensi untuk mengganyang hama lalat. Rahasianya terletak pada zat piretrin yang bersifat racun. Sebanyak 25 g serbuk krisan yang dilarutkan dalam 10 l air, kemudian dicampur dengan 10 cc deterjen cair atau sabun colek. Setelah diendapkan semalam dan disaring kain halus, semprotan larutan ini mampu membunuh hama kubis dalam 24 jam.

Zat aktif piretrinnya mampu merusak sistem saraf hama. Zat itu bekerja sangat cepat (rapid in action) dan menimbulkan gejala kelumpuhan yang mematikan.
Semprotan air perasan daun picung, suren, dan biji nimba bisa menjadi alternatif dalam mengusir wereng.

Menurut literatur, picung (Pangium edule) mengandung minyak atsiri beracun yang digunakan sebagai insektisida nabati. Sementara suren (Toona sureni) kaya akan kandungan surenon, surenin, dan surenolakton yang berperan sebagai penghambat pertumbuhan, insektisida, dan antifeedant (penghambat daya makan) terhadap larva serangga. Bahan ini juga terbukti sebagai repellant (pengusir) nyamuk.

Nimba, bunga krisan, picung, dan suren hanya sebagian dari jajaran "si pembasmi kejahatan" itu. Tentunya masih banyak lagi dan tidak akan cukup untuk diuraikan dalam tulisan pendek ini, sebagai pengetahuan beberapa tumbuhan itu didaftar di bawah ini. (Chevi/dari berbagai sumber)***






Si Penebar Maut Itu


DAUN brotowali bisa mengatasi lalat buah, bila ditambah kecubung wulung dapat mengendalikan ulat grayak atau hama penggerek batang.

Nimba pembasmi ulat tanah Agrotis sp, belalang, aphids, dan ulat grayak

Daun mimba dan sirih mengatasi antraknosa pada cabe merah

Larutan/parutan jahe, cengkeh untuk mengusir serangga, mengatasi Plutella xylostella pada kubis

Umbi bawang putih dan bawang merah bisa mengendalikan serangan ngengat dan kupu-kupu, Alternaria porii, dan layu fusarium.

Daun mindi mengatasi ulat grayak Spodoptera sp. dan ulat daun Plutella xylostella

Daun cocor bebek menanggulangi larva ulat daun Plutella xylostella

Daun dan biji suren bisa membasmi walangsangit, hama daun Eurema sp

Akar dan daun serai wangi ampuh terhadap aphids dan tungau

Daun babadotan membasmi ulat

Daun cengkih sebagai fungisida

Umbi gadung memberantas aphids, tikus

Buah maja untuk mengusir walangsangit

Buah mengkudu sebagai larvasida

Kulit batang pasak bumi musuhnya lalat buah

Daun tembakau ampuh terhadap aphids

Teh basi untuk mengusir semut.



Rss_feed

Recent Blog Entries

by tanimaju | 0 comments
by tanimaju | 1 comment
by tanimaju | 0 comments

Upcoming Events

No upcoming events